Rabu, 29 Agustus 2018

Resensi Buku


MANUSIA JAWA dan GUNUNG MERAPI:
Persepsi dan kepercayaan
(Lucas Sasongko Triyoga)
            Indonesia adalah Negara yang kaya akan gunung api dan merupakan salah satu negara yang terpenting dalam menghadapi masalah gunung api aktif. Adanya gunung-gunung api aktif ini acapkali membawa akibat bencana, baik kerugian harta benda maupun korban jiwa manusia, tetapi di lain pihak suatu keberuntungan sebagai sumber kemakmuran Negara.
Letusan Gunung Merapi tahun ini merupakan letusan terbesar sepanjang sejarah Merapi yang tercatat. Mengamati dinamika perkembangan meletusnya Gunung Merapi selalu diiringi dengan persepsi dan sistem kepercayaan masyarakat yang tinggal di sekitar Merapi. Ketika kita bicara Merapi tentu tak lepas pada pembicaraan kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitar Merapi.
Sejarah tiga desa di lereng Merapi, yaitu Desa Kawastu, Desa Korijaya, dan Desa Wukirsari. Sulit dipastikan kapan desa-desa tersebut didirikan karena hingga kini belum ada penulisan sejarah, kecuali informasi lisan yang beredar di kalangan penduduk setempat mengenai tokoh cikal bakal berdirinya desa mereka.
Sejarah didirikannya desa-desa tersebut kebanyakan dihubungkan dengan berbagai pergolakan politik kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, atau para pelarian politik masa lalu yang bersembunyi, atau priyayi pendatang yang bersemedi kemudian membuka hutan dan menetap di lereng Gunung Merapi hingga ajalnya.
Penduduk di lereng Gunung Merapi memunyai kepercayaan bahwa selain manusia, dunia alam semesta juga dihuni makhluk lain yang mereka sebut dengan bangsa atau makhluk halus. Layaknya kehidupan manusia, dalam dunia makhluk halus terdapat organisasi tersendiri yang mengatur hierarki pemerintahan dengan segala aktivitasnya.
Salah satu hierarki pemerintahan makhluk halus yang erat di penduduk adalah Keraton Makhluk Halus Gunung Merapi yang menurut penduduk dari ketiga desa tersebut. Juga dibahas tempat-tempat angker, binatang-binatang sakral, serta sebabsebab letusan dan cara meramalkannya. Buku ini ditutup dengan sebuah prolog yang membahas semua fenomena yang hidup di sekitar Merapi hingga saat ini.
Badai pyroclastic alias wedhus gembel, yang memakan korban jiwa penduduk setempat, termasuk meninggalnya Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi. Buku ini menakjubkan karena merupakan buku pertama yang menganalisis gunung berapi di Indonesia dari segi manusia bukan dari segi ekologi fisik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Pages - Menu

Search

Blogger templates