MANUSIA
JAWA dan GUNUNG MERAPI:
Persepsi
dan kepercayaan
(Lucas
Sasongko Triyoga)
Indonesia adalah Negara yang kaya
akan gunung api dan merupakan salah satu negara yang terpenting dalam
menghadapi masalah gunung api aktif. Adanya gunung-gunung api aktif ini
acapkali membawa akibat bencana, baik kerugian harta benda maupun korban jiwa
manusia, tetapi di lain pihak suatu keberuntungan sebagai sumber kemakmuran Negara.
Letusan
Gunung Merapi tahun ini merupakan letusan terbesar sepanjang sejarah Merapi
yang tercatat. Mengamati dinamika perkembangan meletusnya Gunung Merapi selalu
diiringi dengan persepsi dan sistem kepercayaan masyarakat yang tinggal di
sekitar Merapi. Ketika kita bicara Merapi tentu tak lepas pada pembicaraan
kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitar Merapi.
Sejarah
tiga desa di lereng Merapi, yaitu Desa Kawastu, Desa Korijaya, dan Desa
Wukirsari. Sulit dipastikan kapan desa-desa tersebut didirikan karena hingga
kini belum ada penulisan sejarah, kecuali informasi lisan yang beredar di
kalangan penduduk setempat mengenai tokoh cikal bakal berdirinya desa mereka.
Sejarah
didirikannya desa-desa tersebut kebanyakan dihubungkan dengan berbagai
pergolakan politik kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, atau para pelarian
politik masa lalu yang bersembunyi, atau priyayi pendatang yang bersemedi
kemudian membuka hutan dan menetap di lereng Gunung Merapi hingga ajalnya.
Penduduk di lereng Gunung Merapi memunyai
kepercayaan bahwa selain manusia, dunia alam semesta juga dihuni makhluk lain
yang mereka sebut dengan bangsa atau makhluk halus. Layaknya kehidupan manusia,
dalam dunia makhluk halus terdapat organisasi tersendiri yang mengatur hierarki
pemerintahan dengan segala aktivitasnya.
Salah satu hierarki pemerintahan makhluk halus yang
erat di penduduk adalah Keraton Makhluk Halus Gunung Merapi yang menurut
penduduk dari ketiga desa tersebut. Juga dibahas tempat-tempat angker,
binatang-binatang sakral, serta sebabsebab letusan dan cara meramalkannya. Buku
ini ditutup dengan sebuah prolog yang membahas semua fenomena yang hidup di
sekitar Merapi hingga saat ini.
Badai
pyroclastic alias wedhus gembel, yang memakan korban jiwa penduduk setempat,
termasuk meninggalnya Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi. Buku ini
menakjubkan karena merupakan buku pertama yang menganalisis gunung berapi di
Indonesia dari segi manusia bukan dari segi ekologi fisik.